PACITAN,wartakita.co- Para peserta Festival Ronthek Pacitan pada malam pertama menunjukkan penampilan terbaik dengan tema beragam. Mulai kearifan lokal, religi hingga pesan moral untuk selalu menjaga keseimbangan alam.
Salah satu yang menyita perhatian adalah penampilan grup ronthek Ki Sono Disastro. Perwakilan Kecamatan Sudimoro ini mengangkat tema ruwatan kolo ganjur. Tema ini menggambarkan cerita kearifan lokal di wilayah setempat.
Dalam kisahnya, masyarakat di sebuah desa di ujung timur Pacitan dihantui oleh wabah penyakit menular dan mematikan. Tingkat penularan sangat cepat membuat penduduk desa ketakutan. Bahkan, pagi sakit sore harinya meninggal dunia.
Beragam upaya mengatasi wabah penyakit ini terus dilakukan para pemangku desa. Namun, tak juga membuahkan hasil. Barulah di masa pemerintahan kepala desa Ki Sono Disastro wabah itu mulai menghilang.
Demang kedua Desa Ketanggung itu disebutkan berjalan kaki menuju bukit kecil Dusun Ganjur. Ki Sono bersemedi meminta pertolongan pada Sang Pencipta Allah SWT.
“Jadi masyarakat meyakini bahwa wabah penyakit yang melanda bisa sirna, kehidupan warga desa kembali tenteram setelah ruwatan kolo ganjur yang dilakukan Ki Sono Disastro,” kata Khemal Pandu Pratikna, Camat Sudimoro.
Selain Sudimoro, Kecamatan Pacitan menampilkan tema metamorfosa. Kemudian ronthek Argo Jalu mengusung keindahan alam Pacitan. Bantaran Srodo, Desa Karangrejo menampilkan Arjosari Bumi Santri. Pertunjukkan hari pertama ditutup dengan aksi Baung Tengoro Desa Bungur, Tulakan.
Pada malam kedua Sabtu (17/12) nanti akan ada 7 peserta FRP 2022. Nawangan, Punung, Donorojo, Pringkuku, Tegalombo, Bandar dan Ngadirojo.
