PACITAN,wartakita.co- Kabupaten Pacitan mempunyai kearifan lokal yang cukup beragam. Satu diantaranya adalah tradisi pasca panen raya di awal tahun masyarakat petani Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan.
Tradisi “entas entas” yang sudah turun temurun masih terpelihara dengan baik sampai kini. Ini terlihat dari kegiatan budaya entas entas yang berlangsung di Latar Gubung Song Meri di Dusun Nitikan, Sukoharjo pada Sabtu (18/4) malam.
Masyarakat mengikuti serangkaian prosesi entas-entas yang diawali oleh doa tetua adat. Doa sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen melimpah.
Prosesi sakral lainnya adalah memungut/mengumpulkan sebagian (jimpit) hasil panen (gabah) seikhlasnya dari petani oleh sekelompok pemuda. Bulir padi yang terkumpul selanjutnya di upacarakan sebelum dibagikan kepada warga kurang mampu maupun mereka yang tidak ikut panen dan mengalami gagal panen.
“Ini tradisi yang sudah turun temurun. Tujuannya untuk terus memupuk tali persaudaraan, silaturrahmi serta menumbuhkan jiwa sosial masyarakat dengan berbagi,” kata Solichin, tokoh adat desa setempat.
Baca juga : Menag Nasaruddin Umar Dukung Usulan Tokoh Pondok Tremas Jadi Pahlawan Nasional
Pemerintah Kabupaten Pacitan memberi apresiasi tinggi tradisi entas entas masyarakat Desa Sukoharjo. Di era modern seperti saat ini, masyarakat masih melestarikan warisan nenek moyang yang kaya akan nilai sosial dan kemanusiaan. Warga menjunjung tinggi gotong royong, kebersamaan serta kesetiakawanan sosial.
“Entas entas merupakan tradisi baik masyarakat Desa Sukoharjo. Mudah-mudahan tradisi ini terus lestari dan membawa lebih banyak kebaikan bagi masyarakat,” ujar Bupati Indrata Nur Bayuaji, Bupati Pacitan dihubungi terpisah.
Kegiatan entas entas juga dimeriahkan oleh atraksi seni dari Sanggar Song Meri Desa Sukoharjo. Pertunjukkan seni itu menjadi hiburan sekaligus penutup dari serangkaian tradisi entas entas. (red/adv).
