PACITAN,wartakita.co- Ratusan warga tumpah ruah memadati halaman depan kantor Desa Cemeng, Kecamatan Donorojo, Senin (4/5/2026). Mereka berbondong-bondong menyaksikan kemeriahan Tradisi Bersih Desa Cemeng.
Festival tahunan tiap bulan Longkang (dalam penanggalan Jawa) itu menyajikan kirab budaya. Pun, tak kalah meriah, gelaran puncak yang dinanti warga adalah “adu kelapa”. Sebuah gelaran kolosal yang melibatkan orang dewasa saling beradu buah kelapa.
Peserta adu kelapa merupakan pasangan yang bergantian saling menghantamkan buah kelapa dan pemenang ditentukan oleh buah kelapa yang bisa bertahan tidak pecah.
“Adat budaya bersih Desa Cemeng dilaksanakan tiap bulan Longkang (penanggalan Jawa). Adu kelapa ini sebagai simbol kekuatan, persaudaraan dan kebanggaan warga Desa Cemeng,” kata Sarto, Kepala Desa Cemeng.
Prosesi adu kelapa sendiri merupakan penggambaran dari sejarah terbentuknya Desa Cemeng. Nama Cemeng disebutkan saat pecah perang Diponegoro tahun 1825. Waktu itu Bupati Pacitan Joyoniman atau dikenal Tumenggung Kanjeng Jimat datang ke Dukuh Singkil untuk melawan Belanda atas perintah Raja Mataram.
Berhari-hari hingga berminggu-minggu Kanjeng Jimat bersama Ki Retrogati berjaga di wilayah perbatasan dibantu masyarakat dibawah pimpinan Bekel Trenggono.
Untuk menyambut dan menghormati kedatangan Kanjeng Jimat di Desa Banaran warga menyuguhkan buah kelapa. Namun karena tidak adanya alat untuk memecah buah kelapa tersebut, Kanjeng Jimat bersama Ki Retrogati menggunakan kelebihannya memecah buah kelapa dengan cara diadu.
Setelah terbelah, buah kelapa mengeluarkan asap warna putih dan hitam. Asap hitam yang terbang mengarah ke timur selanjutnya menjadi penanda mengubah nama Banaran menjadi Desa Cemeng.
Ritual bersih desa di wilayah ini tak sekedar melestarikan warisan budaya leluhur semata. Kegiatan adat budaya masyarakat secara turun temurun ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi warga setempat.
“Adu kelapa Desa Cemeng salah satu khasanah budaya di Kabupaten Pacitan, khususnya di Donorojo. Mudah-mudahan pelestarian budaya berbasis agro ini dapat sekaligus menggerakkan perekonomian warga desa,” kata Bagus Nurcahyadi Saputro, Camat Donorojo.
Gelar Budaya Bersih Desa sukses menarik perhatian masyarakat luas. Warga antusias mengikuti prosesi adu kelapa untuk menjadi yang terbaik. Pemenang dari adu kelapa memperoleh hadiah uang tunai dan piala penghargaan.
